Monday, February 6, 2012

UN

Ujian Nasional

Saturday, February 04, 2012 9:03 PM -- Monday, February 06, 2012  12:16:42 PM

Sebentar lagi saya dan mungkin ratusan ribu pelajar kelas 3 SMA, dan kelas 3 SMP akan menghadapi UN, ujian nasional. Ujian yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk menentukan nasib siswa selama 3 tahun yang hanya berlangsung selama 4 hari, bayangkan bagaimana tekanan yang harus dihadapi oleh siswa.

Kalau ditanya saya memang tidak setuju dengan UN, bukannya karena saya tidak suka atau menolak UN, namun karena sistemnya memang tidak bagus, bayangkan andai kita kita tidak lulus UN pasti seluruh Indonesia tahu, misalnya di suatu daerah hampir sekian persen siswa nya tidak lulus UN, pasti seluruh Indonesia tahu, lalu siapa yang malu, bukan hanya siswa yang tidak lulus UN tersebut saja, sekolahnya, dinas Pendidikan kabupaten/kota, Dinas Pendidikan Provinsi, Kepala Sekolah, Camat, Walikota, Bupati, Gubernur, dan semua orang didaerah itu ikut juga malu, lalu apa? Pasti atasan memberi perintah kepada bawahan untuk meningkatkan prestasi dari Siswa yang ada, dan hingga ke Kepala sekolah, memerintahkan guru-guru untuk menggenjot siswa agar lulus UN dengan nilai memuaskan.

Ujian Nasional Standar menjadi standar kelulusan siswa

image source : osolihin.wordpress.com

Bagaimana saya mengatakan saya bisa tidak suka terhadap sistemnya, begini nasib siswa itu hanya ditentukan oleh ujian yang selama 4 hari saja, lalu bagaimana kalau kita sakit pada saat itu? Memang sih masil aja ujian nasional ulang namun kan berbeda saja rasanya aura pada saat ujian nasional dan pada saat ujian nasional ulangan.

Saya sudah pernah sekali melewati ujian nasional pada saat SMP, pada saat itu saya melihat dan merasakan kalau UN hanya menjadi ajang yah yang gimana gitu, hanya sebagai sebuah kewajiban yang harus diikuti tapi tidak berpengaruh, dan tidak bisa dijadikan patokan. Bayangkan bagaimana tidak, pada saat itu Kunci UN bertebaran di sekolah, saya juga mendapat kunci UN dari teman saya, jujur saya juga menggunakan Kunci itu, namun tidak semuanya saya lihat, saya hanya menggunakannya saja sebagai pembanding, dan bukan sebagai patokan. Bagaimana mungkin pemerintah bisa menggunakan ini sebagai bahan acuan untuk menilai mutu pendidikan disuatu wilayah atau sekolah? Kunci ada dimana-mana, yang pintar ada yang tidak lulus, dan yang biasa-biasa saja, malah lulus dengan nilai yang memuaskan. Di SMP saya dulu kalau tidak salah ada 2 orang yang tidak lulus UN, dan keduanya saya lihat sih merupakan orang-orang yang sedikit bergaul, yah bergaul itu salah satu cara dapat kunci UN, selain memang dari bimbel, kalau yang terakhir ini sih saya tidak tahu pasti karena pada saat kelas 3 SMP saat itu saya tidak mengikuti bimbel, saya hanya belajar sendiri di rumah. Saya sendiri dapat kunci dari teman sekelas saya, yang dia sih ngakunya dapat kunci dari bimbel, namun beda bimbel, beda juga kuncinya, pada saat itu saya bisa mendapat 3 kunci yang berbeda, namun perbedaannya tidak terlalu mencolok

3 tahun sudah berlalu dan sebentar lagi saya juga akan menghadapi UN, saya tidak tahu apakah masih ada Kunci nantinya, kalau harapan saya sih setengah-setengah, di satu sisi saya tidak suka dengan kunci tersebut, namun disisi lain saya mengharapkan tapi tidak terlalu kali, hanya untuk sebagai bantuan sekejap saja agar saya bisa lulus? Karena yang saya takutkan, bila nanti pada saat UN, terjadi sesuatu misalnya saya kena FLU dan kurang konsentrasi, itu yang saya takutkan. Saya juga tidak mau bila nanti perjuangan saya selama 3 tahun sia-sia hanya karena hal kecil.

3 tahun memang sudah berlalu namun saya rasa masih tetap sama keadaan dahulu hingga sekarang, mendengar cerita kakak kelas saya yang tahun lalu mengikuti UN, mengatakan masih ada juga Kunci UN, dan mereka menggunakannya, gak ada berubah mungkin selama 2 tahun belakangan ini, dengan apa yang saya alami di SMP dulu, Kunci masih tetap ada (paling tidak hingga tahun lalu, ketika kakak kelas saya mengikuti UN), namun mungkin perbedaannya kali ini adalah, penilaiannya terhadap syarat kelulusannya. Bila 3 tahun yang lalu ketika saya SMP, kelulusan itu 100% ditentukan oleh UN, namun sekarang ini, Nilai tersebut terbagi atas 60% nilai UN dan 40% nilai sekolah (raport dan ujian sekolah) .

Saya sedikit senang dengan peraturan baru ini, namun tetap saja, ini kurang objektif untuk menilai seseorang. Ada beberapa alasan mengapa saya tetap tidak menyukai system yang baru ini, pertama karena memang masih melibatkan UN sebagai system penilaiannya, seperti yang saya sampaikan diatas, UN tidak bisa dijadikan patokan atau acuan dalam penilaian, oleh karena itu pihak Universitas mungkin tidak percaya dengan UN, bayangkan kalau pihak Universitas percaya dengan UN, seleksi masuk Universitas bisa memanfaatkan nilai UN, dan bayangkan berapa penghematan yang bisa kita dapat, bukan hanya uang, tapi juga tenaga, pikiran dan lainnya.

Lalu alasan kedua yaitu mengenai porsi 40% nilai raport dan ujian sekolah, setiap sekolah kan mempunyai penilaian yang berbeda, dan KKM (Kriteria ketuntasan minimal) di setiap sekolah itu berbeda-beda, misalnya seperti disekolah saya, KKM nya 80, maka setiap siswa harus mendapat nilai minimal 80 agar dapat dinyatakan lulus di matapelajaran tersebut. Dalam artian diraport siswa tersebut tidak akan ditemui nilai di bawah 80. Bandingkan bila di suatu sekolah mempunyai KKM 70, atau lebih rendah?

Saya mungkin hanya orang yang bisa berbicara saja, yah mungkin itu kemampuan saya sekarang, saya hanya seorang siswa yang menginginkan perubahan terhadap system ini. Bila ditanya bagaimana bagusnya pendidikan itu dibuat, menurut pandangan saya seharusnya para siswa diajarkan mengenai pengetahuan secara real bukan diajarkan mendapatkan nilai, memang kalau ditanya tidak ada secara langsung guru-guru mengajarkan saya untuk mencari nilai, namun system yang terkadang memaksa saya untuk mengejar nilai.

Saya bukan pakarnya pendidikan, dan belum sebagai tamatan dari Universitas manapun, saya juga belum mendapat gelar kesarjanaan, master, doctor atau professor sekalipun, saya hanya anak kemarin sore yang menulis pada sebuah blog, untuk mengungkapkan perasaan saya, menyampaikan apa yang ada didalam pikiran saya, sharing pengalaman dan pendapat, jadi maafkan saya bila saya salah dalam penulisan artikel singkat ini.


0 comments:

Post a Comment

Mengomentari :