Tuesday, December 4, 2012

Pahitnya Kehidupan

Pahitnya kehidupan ~ Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang tamu. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.


“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Asin. Asin sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu.
“Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. “Bagaimana rasanya?”.

“Segar.”, sahut tamunya.Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda.
Pahitnya kehidupan ~ ibarat garam, namun tergantung kita sekarang bagaimana kita menerimannya

“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama."
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”


0 comments:

Post a Comment

Mengomentari :