Wednesday, April 10, 2013

Pendidikan.

Baru kali ini saya dapat mempunyai kesempatan untuk kembali menulis di blog, setelah beberapa kejadian yang terjadi di hidup saya yang merubah pola pikir saya.

Akhir-akhir ini bagi anda yang masih sering membuka halaman facebook, pasti sering mendapatkan share-status dari akun-akun tertentu yang berisi gambar atau cerita. Nah suatu ketika saya mendapatkan sesuatu gambar yang unik di facebook yang menggambarkan sistem pendidikan. Saya sempat tertarik dengan gambar tersebut, karena memang gambar tersebut menggambarkan bagaiman sistem pendidikan di Indonesia (sejauh ini yang saya lihat).

Namun setelah saya melihat gambar tersebut saya tidak mendapatkan ide apa-apa untuk ditulis, nah akli ini ketika saya sedang browsing menjelajahi Internet, saya berkunjung kesalah satu blog dosen Informatika ITB yaitu pak Rinaldi Munir dan saya tertarik karena dia memposting gambar tersebut ditambah sedikit tulisannya disini. Dari situ saya mendapat sedikit ide untuk ditulis, yang bisa jadi menambahi sedikit dari apa yang ditulis oleh Bapak Rinaldi Munir.

Gambar tersebut Ialah berikut ini.

Sistem Pendidikan Kita.

Yah dari gambar itu saja, anda pasti sudah tahu tema dari gambar itu, dan cukup jelas tentang apa gambar itu menceritakan.

Saya sebagai siswa memang sempat merasakan hal tersebut, bahkan sejak SD hingga saya SMA saya merasakan hal tersebut. Banyak teman saya yang saya temui mengalami hal yang sama dengan yang saya alami, mereka jago dalam suatu bidang seperti olahraga dan seni, namun mereka tidak terlalu berbakat di sekolah, namun yang parahnya justru sistem memaksa dia untuk meninggalkan bidangnya dan berfokus kepada hal yang bukan bidangnya, yaitu pendidikan disekolah. Justru dia di beri pelajaran tambahan melalui les atau bimbel pelajaran-pelajaran disekolah.

Memang kemampuan manusia sangat besar untuk belajar, bahwa manusia bisa mempelajari segala hal di dunia ini. Namun satu hal tidak semua orang bisa menjadi ahli dalam segala bidang.

Contohnya begini ketika beberapa seniman yang ahli dalam bidang seni di suruh mempelajari mengenai kalkulus, maka sebagian dari mereka mungkin saja bisa mempelajarinya dengan mudah, dan sebagian lain mungkin juga tidak bisa mempelajarinya. Pada akhirnya bisa jadi memang semuanya mereka bisa mengerti mengenai materi kalkulus, tapi mereka akan mempunya waktu yang berbeda-beda untuk mengerti akan bidang itu.

Ada seniman yang langsung mengerti materi-materi kalkulus yang mereka pelajari, ada juga seniman yang membutuhkan waktu yang lama untuk mengerti terhadap materi tersebut. Bahkan mungkin bisa jadi ada yang berhenti di tengah jalan.

Bila kondisi tersebut kita balikkan sekarang, beberapa matematikawan, disuruh mempelajari seni, hasilnya juga sama, ada yang memang bisa menjadi ahli dalam bidang seni ( baca: dapat cepat mempelajarinya) dan ada juga yang tidak bisa atau lambat dalam mendalaminya.

Masyarakat juga menilai kecerdasan manusia hanya dari kecerdasan di bidang akademik saja, tanpa memperhatikan hal lain.

Banyak anak-anak yang dipaksa untuk menggenjot prestasi akademik mereka padahal bidang mereka tidak disitu. Dari pagi hingga siang mereka bersekolah, lalu siang dilanjutkan dengan segala macam les, matematika, IPA, IPS dan lain-lainnya, malam harus juga mengerjakan PR, padahal dia bagus dalam bidang musik misalnya, tapi kenapa harus di leskan matematika, kenapa tidak dileskan musik saja?

Banyak hal sebenarnya yang ingin saya tuliskan disini, namun keterbatasan kemampuan saya untuk menyampaikan, hanya sebatas inilah yang berhasil saya ungkapkan melalui tulisan kali ini, mungkin lain waktu dapat lebih banyak lagi yang bisa saya sampaikan.

Selamat Malam
God Bless

0 comments:

Post a Comment

Mengomentari :