Saturday, October 26, 2013

Aku ingin menjadi PNS

Sore ini saya berkesempatan mengajar di Bimbingan Belajar Sosial Masyarakat di daerah Cisitu Lama, tepatnya di Asrama Bumi Ganesha ITB Jalan Cisitu Lama no 35 Bandung. Sedikit informasi mengenai Bimbel ini adalah bimbel yang merupakan hasil Program Kerja Kementrian External di Asrama Bumi Ganesha ITB. Bimbel ini merupakan bimbel yang dikelola oleh para Mahasiswa ITB yang menjadi penghuni di asrama tersebut. Bimbel ini merupakan bimbel sosial masyarakat yang memberikan bimbingan belajar kepada para pelajar disekitaran Cisitu secara gratis untuk siswa SD dan SMP. Dan kegiatan ini dilaksanakan rutin setiap minggu pada sabtu dan minggu.

Kali ini saya mengajar siswa kelas 3 SD. Murid yang saya ajar sekitar 10 orang, dan berasal dari beragam SD di kota Bandung (tepatnya sih di sekitaran Cisitu Lama). Banyak pengalaman menarik yang saya temui ketika mengajar mereka. Salah satunya yaitu sore ini ketika saya berbagi pengalaman kepada mereka tentang cita-cita.

Jadi sore ini setelah semua materi yang saya berikan sudah habis, seperti biasa yang saya lakukan adalah sharing-sharing dan bercerita-cerita kepada mereka mengenai hal-hal yang mendidik (saya tidak tahu apakah, setiap saya sharing berhasil mendidik mereka atau tidak, tapi saya berusaha untuk membagikan hal yang positif kepada mereka). Setelah minggu-minggu sebelumnya saya sharing mengenai cara belajar dan bermain, kali ini saya sharing mengenai cita-cita, saya menyuruh mereka menggambarkan di kertas diri mereka dengan apa yang mereka cita-citakan, tujuannnya ialah agar mereka mempunyai cita-cita dan mereka dapat mengetahui apa yang ingin mereka tuju di masa depannya.

Yah walaupun perjalanan mereka masih panjang, tapi setidaknya mereka dapat mengetahui apa yang ingin mereka capai di masa depan, walaupun itu hanya ideal menurut mereka (sesuai dengan perkembangan dari pola pikir dan pengetahuan mereka mengenai keprofesian saat ini ~ kelas 3 SD).

Seperti anak-anak pada umumnya yang bercita-cita sebagai Dokter, Polisi, Polwan, Pramugari, Guru, mereka menyebutkan cita-cita mereka dengan tanpa dosa dan polos. Saya juga bertanya mengapa mereka mencita-citakan hal tersebut.

Nah ada satu anak laki-laki yang menarik perhatian saya, dengan cita-citanya yang tidak biasa. Yaitu ingin menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Apa yang membuatnya menarik? Toh menjadi PNS tidak ada salahnya. (Dalam pikiran saya saat itu, PNS yang dimaksud anak tersebut adalah PNS yang bekerja di Kantoran, setiap orang mungkin memiliki perspektif yang berbeda-beda mengenai PNS, tapi saat itu entah kenapa tiba-tiba PNS yang dimaksud anak tersebut dalam pikiran saya mengarah kepada hal tersebut)

Yah tidak ada salahnya bukan menjadi PNS? Tapi satu hal yang tidak biasa juga, ketika saya tanya kenapa ingin menjadi PNS, dia menjawab tujuannya jadi PNS adalah agar banyak uangnya dan ketika pensiun dapat uang 2 Milyar. Saya tidak tahu mengapa dia bisa menjawab hal tersebut. Dan darimana dia bisa mempunyai sebuah pengalaman sebelumnya sehingga dia bisa menjawab hal seperti itu.

Usut punya usut ternyata, orang tua dari anak tersebut adalah seorang PNS juga, namun saya tidak menanya PNS apa orang tuanya.

Apa yang salah dengan cita-citanya? Yah secara umum memang tidak ada yang salah, dan kita juga tidak bisa menyalahkan mereka mengenai cita-cita mereka, dibalik cita-cita mereka juga tersimpan suatu cerita yang mungkin menjadi motivasi atau juga pengalaman yang membuat mereka bisa menyebutkan hal tersebut sebagai cita-cita yang ingin mereka tuju di masa depan.

Namun disini yang menjadi perhatian saya ketika teman-temannya yang lain mempunyai cita-cita yang idealnya memang disebut anak kecil ketika mereka ditanya mengenai cita-cita mereka (setidaknya  dari pengalaman saya dulu saat kecil), terselip dia dengan cita-cita dan alasannya yang menjadikan dia dan cita-citanya berbeda dari umumnya yang sering terjadi.

Coba bandingkan dengan teman-temannya yang lain yang saya tanyai apa cita-cita mereka. contohnya teman lainnya yang menjawab cita-citanya adalah menjadi dokter, dan motivasi mereka ingin menjadi dokter adalah agar bisa menyembuhkan orang sakit, ada lagi yang bercita-cita menjadi pramugari dengan tujuan agar bisa jalan-jalan dengan pesawat gratis. Ada lagi yang bercita-cita ingin menjadi Polisi agar bisa ikut perang (walaupun sedikit tidak nyambung, polisi kan tidak berperang).

Perbedaan yang saya dapat di motivasi mereka, tidak ada satupun dari mereka yang menyebutkan uang dalam motivasi mereka mencita-citakan hal tersebut kecuali anak yang bercita-cita menjadi PNS tersebut (sekali lagi saya tekankan sasaran tulisan ini bukanlah PNS, tapi motivasi anak tersebut, PNS tidak salah dicita-citakan anak-anak kok).

Sebagai anak kecil yang pengalaman hidupnya belum terlalu banyak, yah mungkin menurut pandangan saya tidak sewajarnya sih dapat menyebutkan cita-cita atas motivasi uang, apalagi terlalu jauh mikir saat pensiun. Saya tidak tahu apa yang mereka bilang tersebut mereka mengerti, namun setidaknya mereka juga tahulah secara kasar apa yang mereka ucapkan tersebut.

Saya mempunyai pengalaman dulu ketika saya kelas 2 atau 3 SD ketika ditanya apa cita-cita saya, saya menjawab, saya ingin menjadi Astronot. Penyebab saya memilih astronot sebagai cita-cita tersebut adalah karena waktu itu saya memilik buku RPAL (Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap) dan di covernya terdapat gambar Astronot lengkap dengan pakaian khusus Astronot berjalan di Bulan. Nah di kelas 4 SD, ketika saya ditanya lagi-lagi apa cita-cita saya, saya menjawab ingin menjadi pengusaha sukses, alasan saya saat itu karena terinspirasi oleh T.D. Pardede (setelah membaca Biografinya) yang merupakan pengusaha sukses di Sumatera Utara, dan memiliki Pabrik Tekstil, Hotel, Bank, Klub Sepakbola kecil, Bisa menjadi menteri, mempunyai kedekatan dengan presiden saat itu.

Nah, begitu juga dengan anak-anak tersebut, ketika mereka ditanya mengapa memilih cita-cita tersebut, pasti mereka menjawab berdasarkan pengalaman mereka yang pernah mereka alami. Seorang anak kecil dari mana bisa mendapat pengalaman sehingga membuat mereka bisa berpikiran jauh untuk mendapatkan kesejahteraan yang diidam-idamkannya begitu, bahkan hingga berpikiran kalau PNS itu ketika pensiun mendapat uang 2Milyar. Apa coba yang pernah dialaminya?

Yang lebih saya membuat bingung adalah seperti apa coba lingkungan yang sehari-hari dihadapi oleh anak ini, sehingga dia mendapat pengalaman yang begitu? Sebeda apakah lingkungannya dengan lingkungan dari anak-anak lain? Atau apakah selama beberapa tahun belakangan sejak saya meninggalkan masa kanak-kanak saya, sudah terlalu berubahkah lingkungan yang dihadapi anak seumuran SD kelas 3 kebawah? (saya dulu tidak pernah berpikiran seperti itu, bercita-cita untuk mendapatkan kesejahteraan, bahkan mungkin juga anak-anak lainnya).

Mungkin kalau sampel dari anak-anak yang ditanyai cita-citanya itu lebih banyak lagi, bisa jadi lebih banyak lagi jawaban yang berbeda-beda yang lebih mencengangkan lagi (mungkin). Untungnya dari mereka tidak ada yang menjawab menjadi Anggota Dewan, dan kawan-kawannya.

Berharap saja sih anak-anak seperti itu mendapatkan pengalaman yang tidak seburuk yang ada didalam pikiran saya. -_-







0 comments:

Post a Comment

Mengomentari :