Sunday, November 3, 2013

GIE

Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua.

Saya menemukan sebuat tweet dari seorang teman yang isinya adalah kalimat diatas. Sesuatu yang sangat berkesan menurut saya kalimat tersebut, sesuatu yang mempunyai arti yang sangat dalam, di kehidupan duniawi kita.

Kata tersebut menggambarkan bagaimana perasaan dari filsuf Yunani tersebut melihat dunia ini. Bisa jadi kalimat itu telah muncul ribuan tahun yang lalu (mungkin juga 2000-2400 tahun yang lalu, di zaman-zamannya Plato dan filsuf-filsuf Yunani lainnya).

Tapi entah mengapa, atau memang benar adanya, kata-kata itu masih relevan (atau mungkin tepatnya sangat relevan) dengan keadaan sekarang ini. Seandainya saya orang yang tidak ber-Tuhan, mungkin saya juga akan menyebut kalimat tersebut. Namun beruntunglah saya, saya memiliki Tuhan, dan saya tahu apa maksud Tuhan menciptakan saya kedunia ini.



Untuk mempermudah mengerti kalimat itu mungkin mari kita harus berpandangan menjadi seorang yang tidak ber-Tuhan, atau orang yang ber-Tuhan namun tidak tahu apa tujuannya diciptakan di dunia ini.

Memang nasib terbaik adalah tidak dilahirkan di dunia ini, karena seperti ini keadaan dunia ini. Tak ada kesenangan yang mutlak, semua penderitaan, semua kemunafikan yang ada, dunia dengan segala orang yang ada didalamnya, lebih baik memang kita tidak dilahirkan didunia ini, agar tidak merasakannya. Orang-orang yang tidak dilahirkan didunia ini, mungkin merupakan orang-orang yang sangat beruntung, karena tidak merasakan dunia ini.

Dilahirkan tapi mati muda. Setidaknya hanya dilahirkan saja membawa kita merasakan dunia ini dan segala yang saya katakan tadi hanya sebentar, sangat beruntung hanya menikmatinya sebentar. Dan yang paling tidak beruntung adalah mereka yang begitu lama menghadapi dunia ini dengan segala yang ada didalamnya, termasuk ketidaknikmatannya.


0 comments:

Post a Comment

Mengomentari :